Minggu, 24 November 2013

askep sinusitis


BAB I
TINJAUAN TEORITIS
KONSEP TEORI
A.      Definisi
Inusitis  merupakan penyakit infeksi sinus yang disebabkan  oleh kuman atau virus.

B.       Etiologi (penyebab)
1.      Pada Sinusitis Akut, yaitu :
a.       Infeksi virus
Sinusitis akut bisa terjadi setelah adanya infeksi virus pada saluran pernafasan bagian atas (misalnya Rhinovirus, Influenza virus, dan Parainfluenza virus).
b.      Bakteri
Di dalam tubuh manusia terdapat beberapa jenis bakteri yang dalam keadaan normal tidak menimbulkan penyakit (misalnya Streptococcus pneumoniae, Haemophilus influenzae). Jika sistem pertahanan tubuh menurun atau drainase dari sinus tersumbat akibat pilek atau infeksi virus lainnya, maka bakteri yang sebelumnya tidak berbahaya akan berkembang biak dan menyusup ke dalam sinus, sehingga terjadi infeksi sinus akut.
c.       Infeksi jamur
Infeksi jamur bisa menyebabkan sinusitis akut pada penderita gangguan sistem kekebalan, contohnya jamur Aspergillus.
d.      Peradangan menahun pada saluran hidung
Pada penderita rhinitis alergi dan juga penderita rhinitis vasomotor.
1)   Septum nasi yang bengkok.
2)   Tonsilitis yg kronik.
2.      Pada Sinusitis Kronik, yaitu :
a.       Sinusitis akut yang sering kambuh atau tidak sembuh.
b.      Alergi
c.       Karies dentis ( gigi geraham atas ).
d.      Septum nasi yang bengkok sehingga menggagu aliran mucosa.
e.       Benda asing di hidung dan sinus paranasal.
f.       Tumor di hidung dan sinus paranasal.

C.      Patofisologi

D.      Menefestasi Klinis
Berdasarkan manifestasi klinis menurut Adams (1997 hal 241) sinusitis dapat dibagi dua yaitu :
1.         Sinusitis Akut
a.       Sinus Maksilaris : Gejalanya berupa demam, malaise, dan nyeri kepala yang tak jelas yang biasanya reda dengan pemberian analgetik biasa seperti aspirin. Wajah terasa bengkak, penuh dan gigi terasa nyeri pada gerakan kepala mendadak, dan sering kali terdapat nyeri pipi khas yang tumpul dan menusuk juga terkadang berbau busuk.
b.      Sinusitis etmoidalis : Gejalanya berupa nyeri dan nyeri tekan di antara kedua mata dan diatas jembatan hidung, drainase dan sumbatan hidung.
c.       Sinusitis Frontalis : Gejalanya berupa nyeri kepala yang khas berlokasi diatas alis dan biasa pada pagi hari dan memburuk pada tengah hari kemudian perlahan-lahan sampai menjelang malam.
d.        Sinusitis Sfenoidalis : Gejalanya berupa nyeri kepala yang mengarah ke verteks kranium.
2.         Sinusitis Kronik
Gejala sinusitis kronik tidak jelas. Selama eksaserbasi akut, gejala-gejala mirip dengan gejala sinusitis akut namun diluar masa itu gejala berupa suatu perasaan penuh pada wajah dan hidung, dan hipersekresi yang sering kali mukopurulen.

E.       Pemeriksaan Penunjang
Diagnosa meliputi pemeriksaan dengan menggunakan transiluminasi yaitu dengan cara lampu senter yang menyala ditempelkan diatas sinus maksila dengan mulut dalam keadaan tertutup untuk mengamati cahaya terang pada ruangan sinus yang normal karena sinus normal hanya terisi udara. Apabila ditemukan daerah yang gelap menandakan adanya sekresi purulen dan penyumbatan sinus. Pemeriksaan dengan sinar-X pada sinus dan endoskopi nasal juga bisa dilakukan, akan tetapi ini lebih jarang dilakukan, kecuali pasien memiliki penyakit kronis dan berulang.
Tomografi komputer diindikasikan untuk evaluasi sinusitis kronik yang tidak membaik dengan terapi, sinusitis dengan komplikasi, evaluasi preoperatif, dan jika ada dugaan keganasan. Magnetic Resonance Imaging (MRI) lebih baik daripada tomografi komputer dalam resolusi jaringan lunak dan sangat baik untuk membedakan sinusitis karena jamur, neoplasma, dan perluasan intrakranialnya, namun resolusi tulang tidak tergambar baik dan harganya mahal.

F.       Penatalaksanaan
1.     Sinusitis akut
Tujuan pengobatan sinusitis akut adalah untuk mengontrol infeksi, memulihkan kondisi mukosa nasal, dan menghilangkan nyeri. Antibiotik pilihan untuk kondisi ini adalah amoksisilin dan ampisilin. Alternatif bagi pasien yang alergi terhadap penisilin adalah trimetoprim/sulfametoksazol (kekuatan ganda) (Bactrim DS, Spetra DS). Dekongestan oral atau topikal dapat saja diberikan. Kabut dihangatkan atau diirigasi salin juga dapat efektif untuk membuka sumbatan saluran, sehingga memungkinkan drainase rabas purulen. Dekongestan oral yang umum adalah Drixoral dan Dimetapp. Dekongestan topikal yang umum diberikan adalah Afrin dan Otrivin. Dekongestan topikal harus diberikan dengan posisi kepala pasien ke belakang untuk meningkatkan drainase maksimal. Jika pasien terus menunjukkan gejala setelah 7-10 hari, maka sinus perlu diirigasi.
2.     Sinusitis kronis
Penatalaksanaan medis sinusitis kronik sama seperti penatalaksanaan sinusitis akut. Pembedahan diindikasikan pada sinusitis kronis untuk memperbaiki deformitas struktural yang menyumbat ostia (ostium) sinus. Pembedahan dapat mencakup eksisi atau kauterisasi polip, perbaikan penyimpangan septum, dan menginsisi serta mendrainase sinus.
Sebagian pasien dengan sinusitis kronis parah mendapat kesembuhan dengan cara pindah ke daerah dengan iklim yang kering.

G.    KONSEP Keperawatan
1.      Pengkajian
a.       Biodata : Nama ,umur, sex, alamat, suku, bangsa, pendidikan, pekerjaan.
b.      Riwayat Penyakit sekarang :
 Gejala : Riwayat bernafas melalui mulut, kapan, onset, frekwensinya, riwayat pembedahan hidung atau trauma dan penggunaan obat tetes atau semprot hidung : jenis, jumlah, frekwensinya , lamanya.
Sekret hidung : warna, jumlah, konsistensi secret, epistaksis, ada tidaknya krusta/nyeri hidung.
Riwayat  Sinusitis : nyeri kepala, lokasi dan beratnya, hubungan sinusitis dengan musim/ cuaca dan gangguan umum lainnya : kelemahan.
Tanda : Demam, drainage, purulen, polip mungkin timbul dan biasanya terjadi bilateral pada hidung dan sinus yang mengalami radang sampai Pucat, odema keluar dari hidng atau mukosa sinus, kemerahan dan odema membran mukosa.
Pemeriksaan penunjung : kultur organisme hidung dan tenggorokan, pemeriksaan rongent sinus.
c.       Keluhan utama : biasanya penderita mengeluh nyeri kepala sinus, malaise, dan nyeri tenggorokan.
d.      Riwayat penyakit dahulu :Pasien pernah menderita penyakit akut dan perdarahan hidung atau trauma, Pernah mempunyai riwayat penyakit THT, Pernah menderita sakit gigi geraham.
e.       Riwayat keluarga : Adakah penyakit yang diderita oleh anggota keluarga klien yang mungkin ada hubungannya dengan penyakit klien sekarang.
f.       Riwayat Psikososial : Intrapersonal yaitu perasaan yang dirasakan klien (cemas/sedih), interpersonal : hubungan klien dengan orang lain sangat baik.
g.           Pola fungsi kesehatan
1)      Pola persepsi dan tatalaksanaan hidup sehat : Untuk mengurangi flu biasanya klien menkonsumsi obat tanpa memperhatikan efek samping.
2)      Pola nutrisi dan metabolisme : biasanya nafsumakan klien berkurang karena terjadi gangguan pada hidung.
3)      Pola istirahat dan tidur : selama di rumah sakit klien merasa tidak dapat istirahat karena klien sering pilek.
4)      Pola Persepsi dan konsep diri : klien sering pilek terus menerus dan berbau menyebabkan konsepdiri menurun.
5)      Pola sensorik : daya penciuman klien  terganggu karena hidung buntu akibat pilek terus menerus (baik purulen , serous, mukopurulen).
h.         Pemeriksaan fisik
1)      Status kesehatan umum : keadaan umum , tanda-tanda vital, kesadaran.
2)      Pemeriksaan fisik data fokus hidung : nyeri tekan pada sinus, rinoskopi (mukosa merah dan  bengkak).

2.      Diagnosa Keperawatan
Menurut Rusari (2008) diagnosa yang timbul adalah :    
a.       Ketidakefektifan bersihan jalan nafas berhubungan dengan dengan obstruksi sekunder dari peradangan sinus.
b.      Nyeri berhubungan dengan peradangan pada sinus.
c.       Perubahan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan nafus makan menurun sekunder dari peradangan sinus.
d.      Gangguan istirahat tidur berhubungan dengan hidung buntu, nyeri sekunder peradangan sinus.
e.      Cemas berhubungan dengan kurangnya pengetahuan klien tentang penyakit dan prosedur tindakan medis (operasi).

3.      Intervensi
a.       Ketidakefektifan bersihan jalan nafas berhubungan dengan dengan obstruksi sekunder peradangan sinus.
Tujuan                : Bersihan jalan nafas kembali efektif.
Kriteria Hasil      : Jalan napas kembali normal terutama hidung dan klien bernapas tidak lagi melalui mulut.
Intervensi            :
1)      Kaji penumpukkan sekret yang ada.
Rasional : Mengetahui tingkat keparahan dan tindakan selanjutnya.
2)      Kaji pasien untuk posisi semi fowler, misalnya : Peninggian kepala tempat tidur, duduk pada sandaran tempat tidur.
Rasional : Peninggian kepala tempat tidur mempermudah fungsi pernapasan dengan menggunakan gravitasi.
3)      Pertahankan posisi lingkungan minimum, misalnya debu, asap dan bulu bantal yang berhubungan dengan kondisi individu.
Rasional : Pencetus tipe reaksi alergi pernapasan yang dapat mentriger episode akut.
4)      Dorong/bantu latihan nafas abdomen atau bibir.
Rasional : Memberikan pasien beberapa cara untuk mengatasi dan mengontrol pernapasan.
b.      Nyeri berhubungan dengan peradangan pada sinus.
Tujuan                :    Nyeri berkurang atau hilang.
Kriteria Hasil      : Klien mengungkapakan nyeri yang dirasakan berkurang atau hilang, klien tidak menyeringai kesakitan
Intervensi            :
1)      Kaji tingkat nyeri klien dengan Provokatif, Quality, Region, Severity, Thine.
Rasional : Mengetahui tingkat nyeri klien dalam menentukan tindakan selanjutnya.
2)      Jelaskan sebab dan akibat nyeri pada klien  serta keluarganya. Rasional : Dengan mengetahui sebab dan akibat nyeri diharapkan klien berpartisipasi dalam perawatan untuk mengurangi nyeri.
3)      Ajarkan tehnik relaksasi dan distraksi.
Rasional : Dengan tehnik distraksi dan relaksasi klien dapat mempraktekkannya bila mengalami nyeri sehingga nyerinya dapat berkurang.
4)      Observasi tanda tanda vital dan keluhan klien.
Rasional : Mengetahui keadaan umum dan perkembangan kondisi klien.
5)      Kolaborasi untuk penggunaan analgetik.
Rasional : Dapat mengurangi nyeri.
c.       Perubahan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan nafus makan menurun sekunder dari peradangan sinus.
Tujuan                : Kebutuhan nutrisi terpenuhi.
Kriteria hasil       : Menunjukkan peningkatan berat badan menuju tujuan yang tepat. Menunjukkan perilaku/perubahan pola hidup untuk meningkatkan dan/atau mempertahankan berat yang tepat.
Intervensi            :
1)   Kaji kebiasaan diet, masukan makanan saat ini, catat kesulitan makan, evaluasi berat badan dan ukuran tubuh.
Rasional : Untuk mengetahui tingkat kesulitan klien dan tindakan yang harus dilakukan.
2)    Auskultasi bunyi usus.
Rasional : Penurunan atau hipoaktif bising usus menunjukkan penurunan mobilitas gaster dan konstipasi (komplikasi umum) yang berhubungan dengan pembatasan pemasukkan cairan, pilihan makanan buruk, penurunan aktivitas, dan hipoksemia.
3)       Beri perawatan oral sering, buang sekret, berikan wadah khusus untuk sekali pakai dan tisu.
Rasional : Rasa tak enak, bau dan penampilan adalah pencegah utama terhadap nafsu makan dan dapat membuat mual muntah dengan peningkatan kesulitan nafas.
d.      Gangguan istirahat tidur berhubungan dengan hiidung buntu, nyeri sekunder peradangan sinus.
Tujuan                :   Istirahat tidur kembali normal.
Kriteria Hasil      : Menyatakan pemahaman penyebab/faktor resiko individu. Klien dapat tidur 6 sampai 8 jam setiap hari.
Intervensi            :
1)      Kaji kebutuhan tidur klien.
Rasional : Mengetahui permasalahan klien dalam pemenuhan kebutuhan istirahat tidur.
2)      Ciptakan suasana yang nyaman.
Rasional : Agar klien dapat tidur dengan tenang
3)      Anjurkan klien bernafas lewat mulut.
Rasional : Pernafasan tidak terganggu.
4)       Kolaborasi dengan tim medis pemberian obat.
Rasional : Pernapasan dapat efektif kembali lewat hidung.
e.       Cemas berhubungan dengan kurangnya pengetahuan klien tentang penyakit dan prosedur tindakan medis (operasi).
Tujuan                : Cemas klien berkurang.
Kriteria Hasil      : Klien akan menggambarkan tingkat kecemasan dan pola kopingnya dan klien mengetahui dan mengerti tentang penyakit yang dideritanya serta pengobatannya.
Intervensi                        :
1)        Kaji tingkat kecemasan klien.
Rasional : menentukan tindakan berikutnya.
2)       Jelaskan atau kuatkan penjelasan proses penyakit individu.
Rasional : Menurunkan ansietas dan dapat menimbulkan perbaikan partisipasi pada rencana pengobatan.
3)      Diskusikan obat pernapasan, efek samping dan reaksi yang tidak diinginkan.
Rasional : Pasien ini sering mendapat obat pernapasan banyak sekaligus yang mempunyai efek samping hampir sama dan potensial interaksi obat.
4)      Diskusikan faktor individu yang meningkat kondisi, misalnya udara terlalu kering, angin, lingkungan dengan suhu ekstrim, serbuk, asap, sprei aerosol, dan polusi udara.
Rasional : Faktor lingkungan ini dapat menimbulkan atau meningkatkan iritasi.

4.      Implementasi

5.      Evaluasi
a.       Potensi jalan napas dengan cairan sekret mudah dikeluarkan.
b.      Nyeri teratasi atau berkurang.
c.       Menyatakan kebutuhan dalam cara yang efektif.
d.      Menunjukkan keseimbangan cairan dengan parameter individual yang tepat, mis: membran mukosa lembab, turgor kulit baik, pengisian kapiler cepat, tanda vital stabil.
e.       Melakukan perubahan pola hidup dan berpartisipasi dalam program pengobatan.

BAB II
ASKEP Contoh Kasus
A.      Pengkajian
1.      Data pasien
Nama                                      : Tn. A
Umur                                      : 15 th
Diagnosa medis                      : Sinusitis
Tindakan                                : Operasi
Ruang                                     : Ruang bedah
No. Register                           :­ -
Tanggal                                  : 27 Juni 2011
Pendidikan                             : SMP
Pekerjaan                                : Siswa
Alamat                                   : Serba Jaman
dr. Operator                           :dr. Indrawadi
dr. Anastesi                            :dr, Kurniawan, Sp. An
2.      Pengkajian
Klien tiba di ruang operasi dengan    : IV ( Infus )
Alergi                                                 : Tidak
Penampilan kulit                                : Normal
Kondisi emosi                                    : Cemas
Jenis anastesi                                      : Umum
Jenis operasi                                       : Bersih terkontaminasi
Posisi tangan                                      : Telentang
Catheter                                             : Tidak
Disinfeksi                                           : Betadin dan Alkohol
Monitor anastesi                                 : ya
Mesin anastesi                                    : ya
Tourniquet                                          : tidak
Mulai                                                  ; 12.00 s/d 12.30 WIB
Cairan                                                 : RL
Tampon                                              : 2 kassa setelah operasi
Masuk RR jam                                   : 13. 45 WIB
Tanda vital                                         : TD     : 110/ 70 mmHg
                                                              RR    : 20 x/menit
                                                             Temp : 37 C
                                                              Puls  : 73 x/menit
Keadaan umum                                  : Sedang
Kesadaran                                          : Apatis
Pernafasan                                          : Tidak teratur
Sirkulasi                                             : Merah muda
Tugor kulit                                         : tidak
Mukosa mulut                                    : Kering
Extrimitas                                           : Hangat
Posisi                                                  : Telentang
Cairan draiin                                      : Tidak
Keluhan Utama                                  : Pasien datang ke rumah sakit dengan    keluhan nyeri kepala dan tenggorokan.
Keadaan Lingkungan                         : Pasien bertempat tinggal di lingkungan yang kurang bersih, ventilasi rumah kurang (tidak adekuat).
3.      Riwayat kesehatan
a.       Data subjektif
1)      Pasien mengatakan nyeri pada daerah operasi.
2)      Pasien mengatakan susah bernafas melalui hidung.
3)      Susah tidur.
b.      Data objektif
1)      Ekspresi wajah meringis.
2)        Jalan nafas tidak efektif.
3)        Lemah
4)      OS sering terbangun.
c.       Riwayat Kesehatan Sekarang
Tuan A datang ke RS tanggal 18 November 2010 dengan keluhan nyeri kepala dan tenggorokan. Nyeri ini dirasakan sejak 7 hari yang lalu disertai pilek yang sering kambuh dan ingus yang kental di hidung. Nyeri dirasakan semakin hebat jika pasien menelan makanan dan menundukkan kepala. Pasien mengalami penurunan berat badan sebanyak 1 kg dari berat badan sebelumnya. Pasien mengaku pernah mempunyai riwayat penyakit THT sebelumnya. Setelah melakukan pemeriksaan pasien didiagnosa menderita sinusitis.
d.      Riwayat Kesehatan Masa Lalu
Pasien mengaku pernah mempunyai riwayat THT. 
e.       Riwayat Kesehatan Keluarga
Klien mengatakan tidak ada anggota keluarganya yang mengalami atau menderita penyakit yang sama dengan klien dan tidak mengalami penyakit keturunan.

B.       Diagnosa Keperawatan
1.     Ketidakefektifan bersihan jalan nafas berhubungan dengan pemasangan tampon hidung terhadap post operasi paradangan sinus.
2.     Nyeri berhubungan dengan luka operasi ditandai dengan klien mengeluh nyeri dihidung, ekspresi wajah meringis, tingkat skala nyeri 5 (nyeri sedang).
3.     Gangguan istirahat tidur berhubungan dengan hidung buntu, nyeri sekunder peradangan sinus.

C.      Intervensi
1.      Ketidakefektifan bersihan jalan nafas berhubungan dengan pemasangan tampon hidung terhadap post operasi peradangan sinus.
Tujuan                      : Bersihan jalan nafas kembali efektif.
Kriteria Hasil            : Jalan napas kembali normal terutama hidung dan klien bernapas tidak lagi melalui mulut.
Intervensi      :
a.       Kaji penumpukkan sekret yang ada.
Rasional : Mengetahui tingkat keparahan dan tindakan selanjutnya.
b.      Kaji pasien untuk posisi yang lebih aman, misalnya : Peninggian kepala tempat tidur, duduk pada sandaran tempat tidur
Rasional : Peninggian kepala tempat tidur mempermudah fungsi pernapasan dengan menggunakan gravitasi.
c.       Pertahankan posisi lingkungan minimum, misalnya debu, asap dan bulu bantal yang berhubungan dengan kondisi individu.
Rasional : Pencetus tipe reaksi alergi pernapasan yang dapat mentriger episode akut
d.      Dorong/bantu latihan nafas.
Rasional : Memberikan pasien beberapa cara untuk mengatasi dan mengontrol pernapasan.
2.      Nyeri berhubungan dengan luka operasi ditandai dengan klien mengeluh nyeri dihidung, ekspresi wajah meringis, tingkat skala nyeri 5 ( nyeri sedang).
Tujuan            : Rasa nyeri berkurang.
Kriteria hasil : skala nyeri 0, bengkak hilang, keadaan umum membaik, ekspresi wajah tenang.
Intervensi      :
a.       Kaji tingkat nyeri klien dengan Provokatif, Quality, Region, Severity, Thine.
Rasional : Mengetahui tingkat nyeri klien dalam menentukan tindakan selanjutnya.
b.      Atur posisi yang nyaman.
Rasional : posisi tidur yang menyenangkan akan memberi rasa nyaman pada pasien.
c.       Alihkan perhatian klien terhadap nyeri dengan mengajak klien mengobrol.
Rasional : Untuk mengurangi nyeri.     
d.      Alihkan perhatian klien terhadap nyeri dengan mengajak klien mengobrol.
Rasional : Untuk mengurangi nyeri.     
e.       Kolaborasi analgetik anti piretik.
Rasional : untuk menghilangkan rasa nyeri.
3.      Gangguan istirahat tidur berhubungan dengan hidung buntu, nyeri sekunder peradangan sinus.
Tujuan                      :   Istirahat tidur kembali normal.
Kriteria Hasil            : Menyatakan pemahaman penyebab/faktor resiko individu. Klien dapat tidur 6 sampai 8 jam setiap hari.
Intervensi      :
a.        Kaji kebutuhan tidur klien.
Rasional : Mengetahui permasalahan klien dalam pemenuhan kebutuhan istirahat tidur.
b.      Ciptakan suasana yang nyaman.
Rasional : Agar klien dapat tidur dengan tenang.
c.       Anjurkan klien bernafas lewat mulut.
Rasional : Pernafasan tidak terganggu.
d.      Kolaborasi dengan tim medis pemberian obat.
Rasional : Pernapasan dapat efektif kembali lewat hidung

D.      Implementasi dan Evaluasi
Implementasi pada hari pertama pada tanggal 27 juni 2011 jam 13.00 Wib untuk diagnosa ketidakefektifan bersihan jalan nafas berhubungan dengan pemasangan tampon hidung terhadap operasiperadangan sinus dan tindakan yang dilakukan adalah mengkaji / memantau frekuensi kedalam dan kemudahan bernafas, mengatur posisi pasien yang lebih aman, misalnya : Peninggian kepala tempat tidur, duduk pada sandarang tempat, kolaborasi untuk penggunaan analgetik.
Evaluasi tanggal 27 juni 2011 jam 13.00 Wib
S   : Klien mengatakan sulit bernafas.
O  : Sulit bernafas, adanya sekret, dan pernapasan 20 x/menit.
A  : masalah belum teratasi
P   : tindakan dilanjutkan
Implementasi pada hari pertama pada tanggal 27 juni 2011 jam 13.10 Wib untuk diagnosa nyeri berhubungan dengan luka operasi ditandai dengan klien mengeluh nyeri dihidung, ekspresi wajah meringis, tingkat skala nyeri 5 (nyeri sedang). tindakan yang dilakukan adalah mengukur tingkat nyeri klien dengan Provokatif, Quality, Region, Severity, Thine, mengatur posisi yang nyaman dan mengalihkan perhatian klien terhadap nyeri dengan mengajak klien mengobrol,  kolaborasi untuk penggunaan obat anti nyeri ( Injeksi Tramadol 1 ampul/8 jam).
Evaluasi tanggal 27 juni 2011 jam 13.10 WIB
S   : Pasien mengatakan nyeri dibagian hidung.
O  : Klien mengeluh nyeri dihidung, ekspresi wajah meringis, tingkat skala    nyeri     5 (nyeri sedang).
A              : Masalah belum teratasi 
P   : Tindakan dilanjutkan
Implementasi pada hari pertama pada tanggal 27 juni 2011 jam 13.30 Wib untuk diagnosa gangguan istirahat tidur berhubungan dengan hidung buntu, nyeri sekunder peradangan hidung tindakan yang dilakukan adalah Kaji kebutuhan klien dan ciptakan suasana yang nyaman.
Evaluasi tanggal 27 juni 2011 jam 13.30 Wib
S    : Pasien mengatakan sulit beristirahat
O   : Keadaan umum lemah, klien sering terbangun.
A   : Masalah belum teratasi
P   : Tindakan dilanjutkan

BAB III
PENUTUP
A.      Kesimpulan
1.      inusitis adalah suatu proses peradangan pada mukosa atau selaput lendir sinus paranasal.  Penyebab dari sinusitis adalah virus, bakteri, atau jamur. Kuman penyebab sinusitis akut tersering adalah streptococcus pneumoniae dan hemophilus influenza.
2.      Diagnosa keperawatan yang didapatkan pada pasien adalah :
3.      Implementasi dapat dikerjakan dengan baik sesuai dengan harapan dalam perencanaan tanpa ada kendala yang berarti, ini didukung oleh fasilitas yang mencukupi di Rumah Sakit serta kerja sama dengan klien dan keluarga.
4.    Hasil evaluasi dilakukan untuk mengetahui tercapainya pemecahan masalah dan satu tindakan yang telah di laksanakan. Dilakukan pengkajian ulang terhadap aspek yang terkait masalah klien. Selama dalam perawatan yang penulis lakukan pada klien post operasi sinusitis berdasarkan hasil evaluasi maka dapat di simpulkan bahwa semua masalah dapat teratasi dan juga sebagian teratasi bertahap setiap harinya.

B.       Saran
Banyak komplikasi yang terjadi pada penderita sinusitis, yakni menyebabkan komplikasi ke orbita dan intracranial, juga dapat menyebabkan peningkatan serangan asma yang sulit diobati. Namun komplikasi ini dapat menurun dengan pemberian antibiotic dan dekongestan sejak dini (awal terjangkitnya sinusitis) untuk mempercepat penyembuhan, mencegah komplikasi, dan perubahan menjadi kronik.

DAFTAR PUSTAKA
Doenges, M. G. Rencana Asuhan Keperawatan, Edisi 3 EGC, Jakarta 2000
Lab. UPF Ilmu Penyakit Telinga, Hidung dan tenggorokan  FK Unair, Pedoman diagnosis dan Terapi Rumah sakit Umum Daerah dr Soetom FK Unair, Surabaya
Prasetyo B, Ilmu Penyakit THT, EGC Jakarta
http://duniailmukeperawatan.blogspot.com/2011/10/asuhan-keperawatan-sinusitis.html

41 komentar:

  1. artikel yang sangat membantu sekali.... terimakasih banyak..

    http://www.tokoobatku.com/obat-herbal-penyakit-sinusitis/

    BalasHapus
  2. This is a very wonderful page happy to visit your page I found your page from google
    Obat Herbal Maag Kronis
    Obat Herbal Sinusitis Kronis

    BalasHapus
  3. Information is very important, and this post clearly shows how much one can learn from posts and blogs. I find it highly informative, a post that i think its suitable to share. If you are lookign for a relibale place to have your assignment done effectively, professionally and faster, then Custom Writing Bay is the place to be.

    BalasHapus
  4. terima kasih atas informasi yang telah disajikan senang bisa berkunjung di halaman anda dan terima kasih banyak atas ilmunya.
    Obat Asam Lambung
    Obat Infeksi Paru Paru
    Obat Stroke Ringan
    Obat Kelenjar Tiorid
    Obat Kista Payudara
    Obat Hepatitis B
    Obat Kanker Payudara

    BalasHapus
  5. Information is very useful and can add insight, happy to be on your page, thanks to the information you shared. This is very useful. Good luck always!!
    Obat Luka Bakar Tradisional Yang Efektif
    Obat Gatal Alergi Eksim Tradisional Terampuh
    Cara Mengatasi Badan Pegal Linu Secara Alami
    Cara Menyembuhkan GERD Secara Alami dan Aman

    BalasHapus
  6. Thanks for the information presented on your website
    Very in waiting for other information

    manfaat temulawak untuk hepatitis
    daun salam untuk sakit pinggang
    obat gendang telinga sakit

    BalasHapus
  7. thanks for informations
    https://tokoherbalnesv.blogspot.com/

    BalasHapus
  8. Thank you for our good cooperation, hopefully it can be even better.
    Bahaya Kista Ginjal

    BalasHapus
  9. I really like the articles you make. always success

    Oplosan Essen Galatama Ikan Mas

    BalasHapus
  10. Your article is amazing. Also visit our website.

    Umpan Ikan Bawal Musim Hujan

    BalasHapus
  11. For those of you who like fishing, visit our website (:

    Umpan Serbuk Ikan Mas Kilo Gebrus

    BalasHapus
  12. the article that you share is very useful especially for those in need.

    Essen Ikan Mas Garung

    BalasHapus