KATA PENGANTAR
Puji
syukur kita hanturkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, yang telah melimpahkan
taufiq dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaiakan makalah ini.
Adapun judul dalam makalah ini “Infeksi
Nosokomial”. Tidak lupa kami hanturkan banyak terima kasih kepada dosen
pembimbing yang telah memberikan arahan dan petunjuk, sehingga makalah ini
dapat terselesaikan.
Penulis menyadari bahwa makalah ini
belum sempurna, meskipun penulis telah berusaha menyusunnya sebaik mungkin.
Oleh karena itu, kritikan dan masukan dari para pembaca sangat diharapkan demi
perbaikan makalah ini. Akhirnya semoga makalah ini bermanfaat
bagi semua.
Sengkang,
6 November 2013
Penulis
DAFTAR ISI
KATA
PENGANTAR.......................................................................................... i
DAFTAR
ISI........................................................................................................ ii
BAB
I Pendahuluan
A. Latar
Belakang................................................................................................ 1
B. Rumusan
Masalah........................................................................................... 1
C. Tujuan.............................................................................................................. 1
D. Manfaat
.......................................................................................................... 2
BAB
II Pembahasan
A. Pengertian
Nosokomial................................................................................... 3
B. Faktor
Penyebab Perkembangan Infeksi Nosokomial................................ .... 3
C. Pencegahan
Nosokomial................................................................................. 8
D. Macam-macam
Penyakit yang Disebabkan Oleh Infeksi Nosokomial............ 9
BAB
III Penutup
A. Kesimpulan.................................................................................................... 14
B. Saran.............................................................................................................. 14
DAFTAR
PUSTAKA......................................................................................... 15
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Pada
akhir-akhir ini banyak kejadian infeksi,terutama infeksi yang sampai saat ini
banyak terjadi di Rumah Sakit, yakni Infeksi Nosokomial.Infeksi ini sangat
rawan terjadi karna penularanya dan penyebaranya terjadi pada saat
seseorang pasien yang sedang di rawat di Rumah Sakit.infeksi ini terjadi
karna adanya mikroorganisme yang menyerang system inang manusia,Hal ini juga di
pengaruhi dengan kebersihan lingkungan Rumah sakit dan juga Kesterilan
alat-alat Rumah sakit karena semua itu juga sebagai penyebab terjadinya infeksi
nosokomial.Resiko infeksi nosokomial bukan juga di tanggung pasien tapi juga
bisa menyerang petugas kesehatan,hal ini dapat menyebabkan penurunan
pelayanan kepada Pasien bila petugas ikut terserang juga.
Maka dari
itu,pengetahuan tentang infeksi ini sangat penting,karena dengan ini semua
terlihat jelas tentang infeksi ini,faktor-faktor yang mempengaruhi,serta
bagaimana cara penanggulangan terhadap resiko akan bahaya infeksi nosokomial.
B.
Rumusan Masalah
1.
Apa pengertian
nosokomial?
2.
Apa faktor
penyebab perkembangan infeksi nosokomial?
3.
Bagaimana pencegahan nosokomial?
4.
Sebutkan macam-macam penyakit yang
disebabkan oleh infeksi nosokomial?
C.
Tujuan
1.
Untuk mengetahui tentang infeksi
nosokomial.
2.
Untuk mengetahui mikroorganisme apa saja
yang menyebabkan infeksi nosokomial.
3.
Untuk mengetahui alat apa saja yang dapat
menyebabkan infeksi nosokomial.
D.
Manfaat
Manfaat dari
makalah atau ringkasan materi ini adalah sebagai bahan pembelajaran bagi
mahasiswa keperawatan dan juga memberikan informasi yang sangat penting
tentang proses penyebaran infeksi nosokomial.
Serta dampak
yang ditimbulkan dari penggunaan alat kesehatan sebab alat kesehatan sangat
berpengaruh terhadap proses penyebaran infeksi nosokomial dan juga faktor
sanitasi dan kebersihan rumah sakit yang juga menjadi faktor penyebab
penyebaran infeksi ini.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Nosokomial
Infeksi nosokomial atau infeksi yang diperoleh dari rumah sakit adalah infeksi
yang tidak diderita pasien saat masuk ke rumah sakit melainkan setelah ± 72
jam berada di tempat tersebut.
B.
Faktor
Penyebab perkembangan Infeksi Nosokomial
Faktor penyebab terjadinya infeksi nosokomial
adalah :
1.
Agen Infeksi
Pasien akan terpapar berbagai macam mikroorganisme
selama ia rawat di rumah sakit. Kontak antara pasien dan berbagai macam
mikroorganisme ini tidak selalu menimbulkan gejala klinis karena banyaknya
faktor lain yang dapat menyebabkan terjadinya infeksi nosokomial. Kemungkinan
terjadinya infeksi tergantung pada :
a. Karakteristik mikroorganisme.
b. Resistensi terhadap zat-zat antibiotika.
c. Tingkat virulensi, dan banyaknya materi infeksius.
Semua mikroorganisme termasuk bakteri, virus, jamur
dan parasit dapat menyebabkan infeksi nosokomial. Infeksi ini dapat disebabkan
oleh mikroorganisme yang didapat dari orang lain (cross infection) atau
disebabkan oleh flora normal dari pasien itu sendiri (endogenous infection).
Kebanyakan infeksi yang terjadi di rumah sakit ini lebih disebabkan karena
faktor eksternal, yaitu penyakit yang penyebarannya melalui makanan dan udara
dan benda atau bahan-bahan yang tidak steril. Penyakit yang didapat dari rumah
sakit saat ini kebanyakan disebabkan oleh mikroorganisme yang umumnya selalu
ada pada manusia yang sebelumnya tidak atau jarang menyebabkan penyakit pada
orang normal.
a. Bakteri
Bakteri dapat ditemukan sebagai flora normal dalam
tubuh manusia yang sehat. Keberadaan bakteri disini sangat penting dalam
melindungi tubuh dari datangnya bakteri patogen. Tetapi pada beberapa kasus
dapat menyebabkan infeksi jika manusia tersebut mempunyai toleransi yang rendah
terhadap mikroorganisme. Contohnya Escherichia coli paling banyak dijumpai
sebagai penyebab infeksi saluran kemih.
Bakteri patogen lebih berbahaya dan menyebabkan
infeksi baik secara sporadik maupun endemik.Contohnya:
1)
Anaerobik
Gram-positif, Clostridium yang dapat menyebabkan gangrene.
2)
Bakteri
gram-positif: Staphylococcus aureus yang menjadi parasit di kulit dan hidung
dapat menyebabkan gangguan pada paru, pulang, jantung dan infeksi pembuluh
darah serta seringkali telah resisten terhadap antibiotika.
3)
Bakteri gram
negatif: Enterobacteriacae, contohnya Escherichia coli, Proteus, Klebsiella,
Enterobacter. Pseudomonas sering sekali ditemukan di air dan penampungan air
yang menyebabkan infeksi di saluran pencernaan dan pasien yang dirawat. Bakteri
gram negatif ini bertanggung jawab sekitar setengah dari semua infeksi di rumah
sakit.
4)
Serratia
marcescens, dapat menyebabkan infeksi serius pada luka bekas jahitan, paru, dan
peritoneum.
b. Virus
Banyak kemungkinan infeksi nosokomial disebabkan
oleh berbagai macam virus, termasuk virus hepatitis B dan C dengan media
penularan dari transfusi, dialisis, suntikan dan endoskopi. Respiratory
syncytial virus (RSV), rotavirus, dan enteroviruses yang ditularkan dari kontak
tangan ke mulut atau melalui rute faecal-oral. Hepatitis dan HIV ditularkan
melalui pemakaian jarum suntik, dan transfusi darah. Rute penularan untuk virus
sama seperti mikroorganisme lainnya. Infeksi gastrointestinal, infeksi traktus
respiratorius, penyakit kulit dan dari darah. Virus lain yang sering
menyebabkan infeksi nosokomial adalah cytomegalovirus, Ebola, influenza virus,
herpes simplex virus, dan varicella-zoster virus, juga dapat ditularkan.
c. Parasit dan Jamur
Beberapa parasit seperti Giardia lamblia dapat
menular dengan mudah ke orang dewasa maupun anak-anak. Banyak jamur dan parasit
dapat timbul selama pemberian obat antibiotika bakteri dan obat immunosupresan,
contohnya infeksi dari Candida albicans, Aspergillus spp, Cryptococcus
neoformans, Cryptosporidium.
2.
Respon dan
toleransi tubuh pasien
Faktor terpenting yang mempengaruhi tingkat
toleransi dan respon tubuh pasien dalam hal ini adalah:
a. Umur
b. Status imunitas penderita.
c. Penyakit yang diderita.
d. Obesitas dan malnutrisi.
e. Orang yang menggunakan obat-obatan immunosupresan
dan steroid.
f. Intervensi yang dilakukan pada tubuh untuk melakukan
diagnosa dan terapi.
Usia muda dan usia tua berhubungan dengan penurunan
resistensi tubuh terhadap infeksi kondisi ini lebih diperberat bila penderita
menderita penyakit kronis seperti tumor, anemia, leukemia, diabetes mellitus,
gagal ginjal, SLE dan AIDS. Keadaan-keadaan ini akan meningkatkan toleransi
tubuh terhadap infeksi dari kuman yang semula bersifat opportunistik.
Obat-obatan yang bersifat immunosupresif dapat menurunkan pertahanan tubuh
terhadap infeksi. Banyaknya prosedur pemeriksaan penunjang dan terapi seperti
biopsi, endoskopi, kateterisasi, intubasi dan tindakan pembedahan juga
meningkatkan resiko infeksi.
3.
Faktor alat
Dari suatu penelitian klinis, infeksi nosokomial
terutama disebabkan infeksi dari kateter urin, infeksi jarum infus,
infeksi saluran nafas, infeksi kulit, infeksi dari luka operasi dan septikemia.
Pemakaian infus dan kateter urin lama yang tidak diganti-ganti. Diruang
penyakit dalam, diperkirakan 20-25% pasien memerlukan terapi infus. Komplikasi
kanulasi intravena ini dapat berupa gangguan mekanis, fisis dan kimiawi.
Komplikasi tersebut berupa :
a. Ekstravasasi infiltrate : cairan infus masuk ke
jaringan sekitar insersi kanul.
b. Penyumbatan : Infus tidak berfungsi sebagaimana
mestinya tanpa dapat dideteksi adanya gangguan lain.
c. Flebitis : Terdapat pembengkakan, kemerahan dan
nyeri sepanjang vena.
d. Trombosis : Terdapat pembengkakan di sepanjang
pembuluh vena yang menghambat aliran infuse.
e. Kolonisasi kanul : Bila sudah dapat dibiakkan
mikroorganisme dari bagian kanula yang ada dalam pembuluh darah.
f. Septikemia : Bila kuman menyebar hematogen dari
kanul.
g. Supurasi : Bila telah terjadi bentukan pus di
sekitar insersi kanul.
Beberapa faktor dibawah ini berperan dalam
meningkatkan komplikasi kanula intravena yaitu: jenis kateter, ukuran kateter,
pemasangan melalui venaseksi, kateter yang terpasang lebih dari 72 jam, kateter
yang dipasang pada tungkai bawah, tidak mengindahkan pronsip anti sepsis,
cairan infus yang hipertonik dan darah transfusi karena merupakan media
pertumbuhan mikroorganisme, peralatan tambahan pada tempat infus untuk
pengaturan tetes obat, manipulasi terlalu sering pada kanula. Kolonisasi kuman
pada ujung kateter merupakan awal infeksi tempat infus dan bakteremia.
4.
Resiko
terjadinya infeksi nosokomial pada pasien
a.
Resiko
infeksi Tipe pasien
Minimal Tidak immunocompromised, tidak ditemukan
terpapar suatu penyakit Sedang Pasien yang terinfeksi dan dengan beberapa
faktor resiko
Berat Pasien dengan immunocompromised berat, (5 µm.
Contohnya bacterial meningitis, dan diphtheria memerlukan hal sebagai berikut;
Ruangan tersendiri untuk tiap pasiennya. Masker untuk petugas kesehatan.
Pembatasan area bagi pasien; pasien harus memakai masker jika meninggalkan
ruangan.
b.
Infection
by direct or indirect contact
Infeksi
yang terjadi karena kontak secara langsung atau tidak langsung dengan penyebab
infeksi. Penularan infeksi ini dapat melalui tangan, kulit dan baju, seperti
golongan staphylococcus aureus. Dapat juga melalui cairan yang diberikan
intravena dan jarum suntik, hepatitis dan HIV. Peralatan dan instrumen
kedokteran. Makanan yang tidak steril, tidak dimasak dan diambil menggunakan
tangan yang menyebabkan terjadinya cross infection.3,9.
c.
Resistensi
Antibiotika
Seiring dengan penemuan dan penggunaan antibiotika
penicillin antara tahun 1950-1970, banyak penyakit yang serius dan fatal ketika
itu dapat diterapi dan disembuhkan. Bagaimana pun juga, keberhasilan ini
menyebabkan penggunaan berlebihan dan pengunsalahan dari antibiotika. Banyak
mikroorganisme yang kini menjadi lebih resisten. Meningkatnya resistensi
bakteri dapat meningkatkan angka mortalitas terutama terhadap pasien yang
immunocompromised. Resitensi dari bakteri di transmisikan antar pasien dan
faktor resistensinya di pindahkan antara bakteri. Penggunaan antibiotika yang
terus-menerus ini justru meningkatkan multipikasi dan penyebaran strain yang
resistan. Penyebab utamanya karena:
1) Penggunaan antibiotika yang tidak sesuai dan tidak
terkontrol.
2) Dosis antibiotika yang tidak optimal.
3) Terapi dan pengobatan menggunakan antibiotika yang
terlalu singkat.
4) Kesalahan diagnosa.
Banyaknya pasien yang mendapat obat antibiotika dan
perubahan dari gen yang resisten terhadap antibiotika, mengakibatkan timbulnya
multiresistensi kuman terhadap obat-obatan tersebut. Penggunaan antibiotika
secara besar-besaran untuk terapi dan profilaksis adalah faktor utama
terjadinya resistensi. Banyak strains dari pneumococci,staphylococci,
enterococci, dan tuberculosis telah resisten terhadap banyak antibiotikaa,
begitu juga klebsiella dan pseudomonas aeruginosa juga telah bersifat
multiresisten. Keadaan ini sangat nyata terjadi terutama di negara-negara
berkembang dimana antibiotika lini kedua belum ada atau tidak tersedia.Infeksi
nosokomial sangat mempengaruhi angka morbiditas dan mortalitas di rumah sakit,
dan menjadi sangat penting karena :
1)
Meningkatnya
jumlah penderita yang dirawat.
2)
Seringnya
imunitas tubuh melemah karena sakit, pengobatan atau umur.
3)
Mikororganisme
yang baru (mutasi).
4)
Meningkatnya
resistensi bakteri terhadap antibiotika.
C.
Pencegahan
Nosokomial
Terdapat
beberapa prosedur dan tindakan pencegahan infeksi nosokomial. Tindakan ini
merupakan seperangkat tindakan yang didesain untuk membantu meminimalkan resiko
terpapar material infeksius seperti darah dan cairan tubuh lain dari pasien
kepada tenaga kesehatan atau sebaliknya. Menurut Zarkasih, pencegahan infeksi
didasarkan pada asumsi bahwa seluruh komponen darah dan cairan tubuh mempunyai
potensi menimbulkan infeksi baik dari pasien ke tenaga kesehatan atau
sebaliknya.
Kunci
pencegahan infeksi pada fasilitas pelayanan kesehatan adalah mengikuti prinsip
pemeliharaan hygene yang baik, kebersihan dan kesterilan dengan lima standar
penerapan yaitu:
1.
Mencuci tangan untuk menghindari infeksi silang.
Mencuci tangan merupakan metode yang paling efektif untuk mencegah infeksi
nosokomial, efektif mengurangi perpindahan mikroorganisme karena bersentuhan
2.
Menggunakan alat pelindung diri untuk menghindari
kontak dengan darah atau cairan tubuh lain. Alat pelindung diri meliputi;
pakaian khusus (apron), masker, sarung tangan, topi, pelindung mata dan hidung
yang digunakan di rumah sakit dan bertujuan untuk mencegah penularan berbagai
jenis mikroorganisme dari pasien ke tenaga kesehatan atau sebaliknya, misalnya
melaui sel darah, cairan tubuh, terhirup, tertelan dan lain-lain.
3.
Melakukan dekontaminasi, pencucian dan sterilisasi
instrumen dengan prinsip yang benar. Tindakan ini merupakan tiga proses untuk
mengurangi resiko tranmisi infeksi dari instrumen dan alat lain pada klien dan
tenaga kesehatan
4.
Menjaga sanitasi lingkungan secara benar. Sebagaiman
diketahui aktivitas pelayanan kesehatan akan menghasilkan sampah rumah tangga,
sampah medis dan sampah berbahaya, yang memerlukan manajemen yang baik untuk
menjaga keamanan tenaga rumah sakit, pasien, pengunjung dan masyarakat.
D. Macam-macam Penyakit yang Disebabkan Oleh Infeksi Nosokomial
1. Infeksi saluran kemih
Infeksi
ini merupakan kejadian tersering, sekitar 40% dari infeksi nosokomial, 80%
infeksinya dihubungkan dengan penggunaan kateter urin. Walaupun tidak terlalu
berbahaya, tetapi dapat menyebabkan terjadinya bakteremia dan mengakibatkan
kematian. Organisme yang biaa menginfeksi biasanya E.Coli, Klebsiella, Proteus,
Pseudomonas, atau Enterococcus. Infeksi yang terjadi lebih awal lebih
disebabkan karena mikroorganisme endogen, sedangkan infeksi yang terjadi
setelah beberapa waktu yang lama biasanya karena mikroorganisme eksogen.
Sangat
sulit untuk dapat mencegah penyebaran mikroorganisme sepanjang uretra yang
melekat dengan permukaan dari kateter. Kebanyakan pasien akan terinfeksi
setelah 1-2 minggu pemasangan kateter. Penyebab paling utama adalah kontaminasi
tangan atau sarung tangan ketika pemasangan kateter, atau air yang digunakan
untuk membesarkan balon kateter. Dapat juga karena sterilisasi yang gagal dan
teknik septik dan aseptik.
2. Pneumonia Nosokomial
Pneumonia nosokomial dapat muncul,
terutama pasien yang menggunakan ventilator, tindakan trakeostomi, intubasi,
pemasangan NGT, dan terapi inhalasi. Kuman penyebab infeksi ini tersering
berasal dari gram negatif seperti Klebsiella,dan Pseudomonas. Organisme ini
sering berada di mulut, hidung, kerongkongan, dan perut. Keberadaan organisme
ini dapat menyebabkan infeksi karena adanya aspirasi oleh organisme ke traktus
respiratorius bagian bawah.
Dari kelompok virus dapat disebabkan
olehcytomegalovirus, influenza virus, adeno virus, para influenza virus, enterovirus
dan corona virus. Faktor resiko terjadinya infeksi ini adalah:
a.
Tipe dan jenis
pernapasan.
b.
Perokok berat.
c.
Tidak sterilnya
alat-alat bantu.
d.
Obesitas.
e.
Kualitas
perawatan.
f.
Penyakit jantung
kronis.
g.
Penyakit paru
kronis.
h.
Beratnya kondisi
pasien dan kegagalan organ.
i.
Tingkat
penggunaan antibiotika.
j.
Penggunaan
ventilator dan intubasi.
k.
Penurunan
kesadaran pasien.
Penyakit yang biasa ditemukan antara lain:
respiratory syncytial virus dan influenza. Pada pasien dengan sistem imun yang
rendah, pneumonia lebih disebabkan karena Legionella dan Aspergillus. Sedangkan
dinegara dengan prevalensi penderita tuberkulosis yang tinggi, kebersihan udara
harus sangat diperhatikan.
3. Bakteremi Nosokomial
Infeksi ini hanya mewakili sekitar 5
% dari total infeksi nosokomial, tetapi dengan resiko kematian yang sangat
tinggi, terutama disebabkan oleh bakteri yang resistan antibiotika seperti
Staphylococcus dan Candida. Infeksi dapat muncul di tempat masuknya alat-alat
seperti jarum suntik, kateter urin dan infus.
Faktor utama penyebab infeksi ini
adalah panjangnya kateter, suhu tubuh saat melakukan prosedur invasif, dan
perawatan dari pemasangan kateter atau infus.
4. Infeksi Nosokomial lainnya
a. Tuberkulosis
Penyebab
utama adalah adanya strain bakteri yang multi- drugs resisten. Kontrol
terpenting untuk penyakit ini adalah identifikasi yang baik, isolasi, dan
pengobatan serta tekanan negatif dalam ruangan.
b. Diarrhea
dan gastroenteritis
Mikroorganisme
tersering berasal dari E.coli, Salmonella, Vibrio Cholerae dan Clostridium.
Selain itu, dari gologan virus lebih banyak disebabkan oleh golongan
enterovirus, adenovirus, rotavirus, dan hepatitis A. Bedakan antara diarrhea
dan gastroenteritis. Faktor resiko dari gastroenteritis nosokomial dapat dibagi
menjadi faktor intrinsik dan faktor ekstrinsik.
1)
Faktor
intrinsik:
a)
abnormalitas
dari pertahanan mukosa, seperti achlorhydria.
b)
lemahnya
motilitas intestinal.
c)
perubahan pada
flora normal.
2)
Faktor
ekstrinsik:
Pemasangan nasogastric tube dan mengkonsumsi
obat-obatan saluran cerna.
c. Infeksi
pembuluh darah
Infeksi
ini sangat berkaitan erat dengan penggunaan infus, kateter jantung dan
suntikan. Virus yang dapat menular dari cara ini adalah virus hepatitis B,
virus hepatitis C, dan HIV.
Infeksi
ini dibagi menjadi dua kategori utama:
1)
Infeksi pembuluh
darah primer, muncul tanpa adanya tanda infeksi sebelumnya, dan berbeda dengan
organisme yang ditemukan dibagian tubuhnya yang lain.
2) Infeksi sekunder, muncul sebagai akibat dari infeksi
dari organisme yang sama dari sisi tubuh yang lain.
d. Dipteri,
tetanus dan pertusis
1)
Corynebacterium
diptheriae, gram negatif pleomorfik, memproduksi endotoksin yang menyebabkan
timbulnya penyakit, penularan terutama melalui sistem pernafasan.
2)
Bordetella
Pertusis, yang menyebabkan batuk rejan. Siklus tiap 3-5 tahun dan infeksi muncul
sebanyak 50 dalam 100% individu yang tidak imun.
3)
Bordetella
Pertusis, yang menyebabkan batuk rejan. Siklus tiap 3-5 tahun dan infeksi
muncul sebanyak 50 dalam 100% individu yang tidak imun.
Infeksi
kulit dan jaringan lunak. Luka terbuka seperti ulkus, bekas terbakar, dan luka
bekas operasi memperbesar kemungkinan terinfeksi bakteri dan berakibat
terjadinya infeksi sistemik. Dari golongan virus yaitu herpes simplek,
varicella zooster, dan rubella. Organisme yang menginfeksi akan berbeda pada
tiap populasi karena perbedaan pelayanan kesehatan yang diberikan, perbedaan
fasilitas yang dimiliki dan perbedaan negara yang didiami.
Infeksi
ini termasuk:
1)
Infeksi pada
tulang dan sendi
Osteomielitis, infeksi tulang atau sendi dan discus
vertebralis.
2)
Infeksi sistem
Kardiovaskuler
Infeksi arteri atau vena, endokarditis, miokarditis,
perikarditis dan mediastinitis.
3)
Infeksi sistem
saraf pusat
Meningitis atau ventrikulitis, absess spinal dan
infeksi intra cranial.
4)
Infeksi mata,
telinga, hidung, dan mulut
Konjunctivitis, infeksi mata, otitis eksterna,
otitis media, otitis interna, mastoiditis, sinusitis, dan infeksi saluran nafas
atas.
5)
Infeksi pada
saluran pencernaan
Gastroenteritis, hepatitis, necrotizing
enterocolitis, infeksi intra abdominal.
6)
Infeksi sistem pernafasan
bawah
Bronkhitis, trakeobronkhitis, trakeitis, dan infeksi
lainnya.
7)
Infeksi pada
sistem reproduksi
Endometriosis dan luka bekas episiotomi.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Infeksi nosokomial atau infeksi yang diperoleh dari rumah sakit adalah infeksi
yang tidak diderita pasien saat masuk ke rumah sakit melainkan setelah ± 72
jam berada di tempat tersebut.
Infeksi ini
disebabkan dari mikroorganisme yang ada dalam tubuh manusia dan juga bakteri
dari lingkungan rumah sakit.oleh karna itu dengan pencegahan dan pengendalian
terhadap infeksi ini dengan berbagai cara mulai sterilisasi alat
kesehatan,pemusnahan mikroorganisme yang menjadi penyebabnya serta sanitasi
lingkungan.
B.
Saran
1. Sterilisasi
alat kesehatan agar mengurangi dampak dari penularan infeksi nosokomial.
2. Melakukan
sanitasi lingkungan sekitar dengan baik dan benar.
3. Serta penanganan pasien infeksi
sesuai dengan prosedur.
DAFTAR PUSTAKA
terima kasih atas informasi yang telah anda sajikan senang bisa berada dihalaman anda ditunggu artikel terbarunya.
BalasHapusObat Penghilang Bekas Jerawat
Obat Keloid Alami
Obat Infeksi Paru Paru
Cara Mengobati Kusta Secara Alami
Obat Gatal Kulit Seluruh Badan